This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

9.29.2010

Periode fiqih keenam: masa dari jatuhnya baghdad hingga kini

Periode ini dimulai sejak keruntuhan Baghdad di abad ke-7 Hijriyah hingga hari ini. Fiqih belum bangkit dari kejumudannya dan para Fuqoha belum merubah metode mereka. Taklid masih tersebar luas. Akan tetapi di dapati individu-induvidu yang tidak senang dengan taklid, lalu menyerukan ijtihad mutlak dan berpegang pada hukum-hukum al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa terikat dengan satu madzhab tertentu. Di antara mereka adalah Ibnu taimiyyah rohimahulloh, Ibnu al-qoyyim rohimahulloh, asy-Syaukani rohimahulloh, dan lainnya. Hanya saja jumlah mereka sedikit dan tidak lepas dari kritik Fuqoha muqolid.
 
MATAN, SYARAH DAN HASYIAH
Para Fuqoha periode ini berorientasi pada penyusunan buku. Kebanyakan dilakukan dengan meringkas. Saking ringkasnya sampai merusak makna dan juga tidak jelas maksudnya. Buku-buku ringkasan ini di sebut dengan “Matan”. Penjelasan makna matan-matan ini disebut dengan “Syarah”. Adapun komenter dan ulasan terhadap syarh tadi disebut dengan “Hasyiah”. Meskipun demikian, ada beberapa ulama yang memiliki metode penulisan didalam periode ini dengan penulisan khas yang berbeda, di antaranya asy-Syatibi dan Ibnu al-Qoyyim. Dan lainnya.

BUKU-BUKU FATWA
Penyusunan buku pada periode ini ada juga bersifat buku-buku fatwa yang merupakan jawaban pertanyaan masyarakat mengenai masalah-masalah kehidupan praktis. Buku-buku ini sangat penting karena merupakan fiqih praktis aplikatif. Misalnya Fatawa ibni taimiyah, al-Fatawa al-Bazaziyah, al-Hindiyah dan lain-lain.

KEBANGKITAN FIQIH KOTEMPORER
Di masa kini ada tanda-tanda kebangkitan fiqih. Diantara fenomenanya adalah perhatian yang signifikan terhadap islam ditengah-tengah kajian akademik, kajian fiqih islam, Munculnya para pakar yang mengusai wawasan perundang-undangan dan wawasan syari’at.

Di tulis: Abu mujahidah alghifari ibnu wurjan

Periode fiqih kelima: Masa kemerosotan fiqih

Periode ini dimulai dari masa berakhirnya periode keempat hingga runtuhnya Baghdad pada tahun 656 H di tangan tartar. Masa ini adalah masa kemerosotan fiqih setelah mengalami perkembangan pesat yang terus meluas dan dinamis. Para Fuqoha pada periode ini lebih suka melakukan taqlid dan berpegang teguh pada madzhab tertentu. Sampai ada yang mengatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Bahkan mereka menyerukan kepada ummat untuk taqlid kepada madzhab dan tidak bergeser darinya.
 
SEBAB TAQLID PARA FUQOHA PADA PERIODE INI
1. Lemahnya kekuasaan politik para kholifah ‘Abasiyyah karena tercabik-cabiknya Negara menjadi beberapa bagian sehingga mempengaruhi perhatian kehidupan fiqih dan Fuqoha.
2. Madzhab-madzhab islam telah dibukukan secara sempurna.
3. Lemahnya kepercayaan diri dan takut melakukan ijtihad.

KARYA ULAMA FIQIH PADA PERIODE INI
Para Fuqoha pada periode ini, meskipun mereka lebih mengutamakan taqlid, telah melakukan banyak hal yang bermanfaat, di antaranya:
1. Menjelaskan alasan-alasan hukum (Ta’lilul ahkam) yang dinukil dari imam-imam mereka dan mengistinbathkan hukum berdasarkan kaidah-kaidahnya.
2. Mengintisarikan kaidah-kaidah istinbath dari hukum-hukum madzhab untuk mengenali metode ijtihad yang ditempuh imam madzhab. Melalui cara ini kaidah-kaidah ilmu ushul fiqih tersempurnakan.
3. Men-tarjih pendapat-pendapat yang dinukil dari imam madzhab.
4. Menyusun fiqih madzhab dengan menyusun hukum-hukumnyam menjelaskan hal-hal yang bersifat global, menopangnya dengan dalil-dalil yang mendukung pendapat madzhab dan menjelaskan kekuatannya.

Di tulis: Abu Mujahidah alghifari ibnu wurjan Lc

Periode fiqih keempat: masa keemasan fiqih

Periode ini dimulai dari awal-awal abad kedua hijriyah dan berlanjut hingga pertengahan abad keempat hijriyah. Fiqih dimasa ini mengalami perkembangan pesat dan mengagumkan. Mengalami kematangan secara sempurna. Dan memberikan hasil yang baik bagi ummat islam dan juga Negara islam.
 

Pada periode ini muncul tokoh-tokoh ulama fiqih. Para mujtahid besar muncul di masa ini dan mendirikan madzhab fiqih yang sebagian besarnya masih bertahan hingga kini.

Pada periode ini pula fiqih dikodifikasi. Kaidah-kaidahnya ditetapkan. Kajian-kajiannya yang berserakan dikumpulkan. Dan berbagai buku yang membahas masalah-masalah fiqih dirangkum. Sebagaimana fiqih, dikodifikasi pula as-Sunnah secara lengkap disertai penjelasan mengenai status shohih atau dho’if dari setiap hadits yang ada.


Periode ini disebut dengan sebutan yang bermacam-macam. Mencerminkan keistimewaan periode ini dan mengungkapkan kondisi fiqih yang ada. Periode ini disebut dengan masa keemasan fiqih, masa kecemerlangan fiqih, masa kodifikasi fiqih atau juga di sebut dengan masa para mujtahid.


SEBAB KECEMERLANGAN FIQIH PADA PERIODE INI:

1. Perhatian para kholifah “Abbasiyah terhadap fiqih dan Fuqoha.

2. Meluasnya Negara islam.

3. Lahirnya mujtahid-mujtahid besar yang memiliki kemampuan fiqih yang mendalam.

4. Kodifikasi as-Sunnah dan telah diidentifikasi antara yang shohih dan dho’if sehingga memudahkan Fuqoha dalam menggali hukum-hukum syar’i.


LAHIRNYA MADZHAB-MADZHAB FIQIH

Pada periode ini lahir madzhab-madzhab islami dengan cirri khas dan orientasi masing-masing. Setiap madzhab memiliki banyak pengikut yang mengajarkan pendapat-pendapatnya dan menerapkan manhajnya.

Dalam setiap madzhab disusun sejumlah kitab fiqih. Kitab-kitab tersebut menjadi dasar bagi kitab-kitab fiqih sesudahnya. Para Fuqoha dari berbagai madzhab merumuskan dasar-dasar istinbath dan kaidah-kaidah penyimpulan hukum. Misalnya Imam as-Syafi’i menulis kitab ar-Risalah.
Di tulis: Abu mujahidah alghifari ibnu wurjan

Periode fiqih ketiga: dari akhir masa khulafa ar-rosyidin sampai menjelang runtuhnya bani ummayah


Periode ini dimulai dari akhir masa khulafa as-Rosyidin. Dari tahun 41 hijriyah hingga awal-awal abad kedua hijriyah, yaitu menjelang runtuhnya Daulah Umawiyah.
Fiqih pada periode ini mengikuti metode shohabat, karena para tabi’in menerima fiqih dari mereka dan menempuh metode mereka dalam menginstinbatkan hukum-hukum. Para ahli fiqih pada masa ini mengacu kepada al-Qur’an dan as-Sunnah kemudian ijtihad. Mereka juga mengamati ‘ilat (alasan) hukum, menjaga kemaslahatan dan menghindarkan kerusakan. Periwayatan hadits dikenal luas pada periode ini dan semakin berkembang. Sedangkan ijtihad jama’i tidak lagi bisa dilakukan di masa ini.

SEBAB BERKEMBANGNYA FIQIH DI PERIODE INI:
1. Meluasnya wilayah fiqih dan banyaknya perbedaan pendapat dalam berbagai masalahnya.
2. Tersebarnya periwayatan hadits dan pengaruhnya dalam bidang fiqih dan lainnya.
3. Munculnya madrosah ahli hadits dan ahli ro’yu.

SEBAB PERBEDAAN PENDAPAT DI PERIODE INI:
1. Tersebarnya fuqoha dari kalangan shohabat dan tabi’in di berbagai negeri islam dan domisili mereka di berbagai kawasan tersebut, sedangkan tingkat keilmuan mereka berbeda.
2. Ijtihad dengan cara syuro atau jama’i, yang menghasilkan kesepakatan atas satu pendapat atau dapat mendekatkan berbagai sisi pandang tidak lagi dapat dilakukan pada periode ini.
3. Perbedaan negeri-negeri yang menjadi tempat tinggal fuqoha dan hal ini mempengaruhi ijtihad Fuqoha yang pasti mempertimbangkan situasi dan kondisi negerinya.
4. Berpegang teguhnya para murid-murid tehadap metode guru mereka, baik fatwa ataupun riwayat-riwayat mereka.

SEBAB TERSEBARNYA PERIWAYATAN HADITS:
1. Tersebarnya para Fuqoha di berbagai negeri.
2. Kebutuhan untuk mengetahui hukum-hukum peristiwa-peristiwa baru.

DAMPAK MELUASNYA PERIWAYATAN HADITS:
1. Meluasnya hukum dan banyaknya istinbath dari as-Sunnah.
2. Banyaknya pemalsuan hadits dari para pembuat kerusakkan yang hati mereka menyimpan kebencian kepada islam dan melakukan makar terhadapnya.
3. Munculnya disiplin ilmu Al-Jarhu wa ta’dil (Ilmu kritik hadits) dan ilmu-ilmu hadits lainnya.

LAHIRNYA MADRASAH AHLI HADITS DAN AHLI RO’YU.
Ijtihad pada periode ini berpijak pada prinsip analisa terhadap alasan-alasan hukum dan menjaga kemaslahatan. Ulama kala itu terdiri dari dua kelompok:
Pertama: Ahlul hadits, yaitu: Kelompok yang berpegang sepenuhnya pada nash-nash, tidak melampauinya, dan tidak cenderung kepada pendapat. Mayoritas Fuqoha ini berada di hijaz madinah.
Kedua: Ahlu ro’yu, yaitu: kelompok yang membangun hukum-hukum baru di atas alasan-alasan dan makna nash, mereka tidak terpaku pada nash-nash, melainkan menyelami makna-maknanya dan mempelajari alasan-alasan hukumnya. Mayoritas Fuqoha model ini berada di kuffah iraq.
Ada beberapa factor yang membantu tumbuhnya madrasah hadits di madinah dan madrasah ro’yu di kuffah:
1. Terpengaruhnya kedua madrasah ini dengan metodelogi para syaikh mereka.
2. Banyaknya hadits dan atsar di madinah karena merupakan tempat turunnya wahyu dan bermukimnya para shohabat.
3. Kesederhanaan kehidupan di madinah dan tidak adanya peristiwa-peristiwa baru kecuali dalam skala kecil.

KODIFIKASI PADA PERIODE INI
Periode ini berakhir tanpa adanya kodifikasi apapun tentang fiqih. Sebagaimana as-Sunnah pada periode ini belum dikodifikasi. Meskipun telah di lakukan upaya-upaya kodifikasi. Umar bin abdul aziz memerintahkan Abu bakar Muhammad bin ‘Amr bin hazm untuk mencatat hadits-hadits. Hanya saja, Umar bin abdul aziz meninggal sebelum Abu bakar Muhammad bin ‘Amr bin hazm menyempurnakan perintahnya.

Di tulis:Abu mujahidah alghifari ibnu wurjan

Periode fiqih kedua: masa khulafa ar-Rosyidin

Fiqih mulai berkembang dan meluas pada periode ini. Para fuqoha mengahadapi berbagai perkara yang tidak mereka jumpai di masa Rosululloh sholallohu alaihi wassalam. Para shohabat telah melakukan tugas menggali hukum-hukum berkaitan dengan masalah-masalah baru. Mereka berijtihad menggunakan ro’yu mereka dengan mengikuti kaidah-kaidah syari’at, prinsip-prinsip umumnya, dan peghetahuan mereka tentang tujuan-tujuannya. Meraka juga berijma’ tentang perihal tertentu. Dan ijma’ mereka dijadikan sebagai sumber fiqih. Ijma’ seperti ini tidak terjadi di masa Rosululloh sholallohu alaihi wassalam. Adapaun sandaran ijtihad dan ijma’ mereka adalah al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber utama dalam menetapkan hukum
 
CARA KHULAFA AR-ROSYIDIN MENGGALI HUKUM.
1. Mencari hukum yang berkaitan di dalam kitabulloh.
2.Jika mereka tidak mendapatkan hukum yang berkaitan di dalam kitabulloh maka mereka mencarinya di dalam as-Sunnah.
3. Jika mereka tidak mendapatkan hukum yang barkaitan didalam kitabulloh dan as-Sunnah maka mereka berijtihad secara jama’i (kolektif) dalam bentuk musyawaroh. Ijtihad jama’i ini lebih dominan pada masa Abu bakar dan Ummar rodhiallohu anhuma.
4. Ijtihad individual, baik dilakukan oleh kholifah sendiri atau yang lainnya.

PERBEDAAN PENDAPAT
Para ahli fiqih dari kalangan shohabat tidak berpedoman pada pendapat kecuali jika tidak mendapatkan sebuah hukum di dalam kitabulloh dan As-Sunnah. Kemudian mereka berijtihad jika tidak mendapatkannya didalam keduanya. Sedangkan ijtihad pasti diikuti dengan perselisihan dan kesepakatan. Perbedaan pendapat adalah perkara alami dalam ijtihad dengan menggunakan ro’yu. Meskipun para ahli fiqih pada masa ini ada perbedaan pendapat, namun perbedaan pendapat mereka sangat sedikit sekali, tidak banyak.
Sebab-sebab perbedaan pendapat ahli fiqih di masa kholifah ar-Rosyidin:
1. Perbedaan pendapat mereka dikarenakan sebagian mereka mengetahui as-Sunnah sementara sebagian yang lain tidak mengetahuinya.
2. Perbedaan pendapat di kalangan shohabat disebabkan ketidak-yakinan mereka terhadap periwayatan Sunnah. Contohnya kasus Umar bin khotob yang tidak mempercayai hadits Fatimah binti qois, ketika ia berkata bahwa Nabi sholallohu alaihi wassalam tidak mewajibkan nafkah dan tempat tinggal untuknya ketika suaminya menceraikannya secara ba’in.
3. Perbedaan pendapat diantara mereka disebabkan perbedaan pemahaman mereka terhadap nash. Contohnya perbedaan pendapat mengenai ‘Iddah, apakah tiga kali suci atau tiga kali haidh. Perbedaan mereka ini dilatarbelakangi oleh maksud dari kata quru’ dalam ayat “Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.. “ (QS. Al-Baqoroh 228)
4. Perbedaan pendapat diantara mereka disebabkan ijtihad dalam perkara yang tidak ada nash-nya. Contohnya Abu bakar rodhiallohu anhu menyamakan pemberian harta diantara ummat islam, sedangkan Ummar rodhiallohu anhu membedakan atas dasar siapa yang terdahulu masuk islam.

KODIFIKASI DI MASA KHULAFA AR-ROSYIDIN
Di masa ini penghimpunan al-Qur’an telah dilakukan dalam satu kumpulan setelah sebelumnya terpisah-pisah. Zaid bin tsabit telah adalah orang yang diperintahkan oleh Abu bakar rodhiallohu anhu untuk menghimpunnya atas saran Ummar bin khotob rodhiallohu anhu kepada Abu bakar rodhiallohu anhu. Sedangkan as-Sunnah belum ditulis di masa ini dan masih tersimpan di dada para shohabat tanpa kodifikasi.

Di tulis: Abu mujahidah alghifari ibnu wurjan

Periode fiqih pertama: masa Rosululloh

Fiqih pada masa Rosululloh sholallohu alaihi wassalam adalah fiqih wahyu saja. Hukum-hukum syari’at turun kepada Rosululloh sholallohu alaihi wassalam dengan lafadz dan maknanya yaitu Al-Qur’an dan juga dengan makna dan lafadznya dari susunan Rosululloh sholallohu alaihi wassalam yaitu al-Hadits ataupun as-Sunnah.
Penetapkan syari’at pada masa Rosululloh sholallohu alaihi wassalam mengalami dua masa yaitu di makkah dan madinah.

Penetapan syari’at di makkah.

Rosululloh sholallohu alaihi wassalam tinggal di makkah sekitar tiga belas tahun, yaitu rentang waktu dari kenabian hingga hijrah. Wahyu pada periode ini menekankan pada beberapa aspek akidah dan akhlak. Dan tidak menyampaikan hukum-hukum praktis kecuali sedikit atau biasanya hanya secara global bukan terperinci.


Penetapan syari’at di madinah.

Setelah di makkah Rosululloh sholallohu alaihi wassalam dan para shohabatnya hijroh ke madinah. Ketika itu Rosululloh sholallohu alaihi wassalam mendirikan Negara yang berhukum dengan hukum Alloh ta’ala. Sejak saat itu , muncul kebutuhan terhadap syari’at yang bersifat praktis yang menjadi landasan tegaknya urusan masyakat islam. Dan Alloh ta’ala pada masa ini menurunkan syari’at yang mengatur kehidupan seorang hamba, baik individu, masyarakat, maupun Negara. Syari’at illahi pada masa ini tidak menyisakan satu sisipun dari sisi-sisi kehidupan kecuali telah diberikan aturan yang cermat dan tepat.


CARA PENETAPAN SYARI’AT DI PERIODE INI

Penetapkan syari’at di masa Rosululloh sholallohu alaihi wassalam di lakukan dengan salah satu dari dua cara berikut:

Pertama: Terjadi peristiwa yang menuntut adanya hukum dari pembuat syari’at atau ummat islam mengalami perkara-perkara yang menuntut mereka bertanya kepada Rosululloh sholallohu alaihi wassalam mengenai hukumnya.

Contoh hukum yang turun sehubungan dengan peristiwa yang terjadi adalah kalamulloh ta’ala:

Artinya:”Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. al-Baqoroh 221) Ayat ini turun ketika ada seorang muslim bermaksud menikahi wanita musyrik namun ia menunggu persetujuan dari Rosululloh sholallohu alaihi wassalam.

Contoh hukum yang turun sebagai jawaban terhadap pertanyaan adalah kalamulloh ta’ala:

Artinya:” Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diridari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka Telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. al-Baqoroh 222)

Kedua: Hukum diturunkan tanpa didahului dengan pertanyaan atau kejadian tertentu. Namun Alloh ta’ala menurunkan ketetapan hukum tersebut.

Di antara hukum jenis ini adalah musyawarah dalam keputusan hukum, penjelasan mengenai ketentuan zakat, perincian mengenai hukum-hukum keluarga, sebagian keterangan mengenai sanksi-sanksi, dan lain sebagainya.


KARAKTERISTIK PENETAPAN SYARI’AT PADA PERIODE INI

1. Penetapan syari’at secara bertahap.

Hukum-hukum dari al-Qur’an dan as-Sunnah tidak turun sekaligus. Penetapan syari’at dilakukan secara bertahap. Hikmah penetapan syari’at secara bertahap ini bahwa hukum-hukum itu dirasakan lebih ringan bagi jiwa, memudahkan untuk menerima dan mengamalkannya, memudahkan untuk mengetahui hukum tersebut, mengahafal dan memahaminya.

Di antara contohnya adalah tahapan hukum jihad:

Pertama: Firman Alloh ta’ala:

Artinya:”Ikutilah apa yang Telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. al-An’am 106). Ini tahapan awal jihad. Tidak diperintahkan untuk berperang karena jumlah masih sedikit dan masih lemah.

Kedua: Firman Alloh ta’ala:

Artinya:”Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, Karena Sesungguhnya mereka Telah dianiaya. dan Sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. al-Hajj 39). Ini tahapan kedua ketika ummat islam kuat. Alloh mengizinkan berperang ketika di dzalimi.

Ketiga: Firman Alloh ta’ala:

Artinya:”Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah, jika mereka berhenti (dari kekafiran), Maka Sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-Anfal 39) Ini tahapan ketiga. Alloh telah mewajibkan ummat islam untuk berjihad.

2. Menghilangkan kesulitan.

Alloh ta’ala menghendaki kemudahan bagi hamba-hamba-Nya. Tidak mempersulit dan memperberat dengan hukum-hukumnya.

Alloh ta’ala berfirman:

Artinya:” Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”(QS. Al-Baqoroh 185)

Artinya: “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu.” (QS. An-Nisa 28)
Artinya:”Alloh sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (QS. Al-hajj 78)

3. Nasakh.

Nasakh berarti menghapuskan hukum yang terdahulu dengan hukum yang datang sesudahnya. Nasakh terjadi dalam penetapan islam pada periode ini saja, demi menjaga kemaslahatan dan menghilangkan beban berat bagi mukalaf.

Di antara contoh nasakh sebagai berikut:

a) Iddah istri yang di tinggal mati suaminya pada masa permulaan islam adalah satu tahun genap. Dan suami harus mewasiatkan nafkah dan tempat tinggal bagi istri selama iddah. Alloh ta’ala berfirman:

Artinya:”Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqoroh 240)

Kemudian Iddah ini di tentukan menjadi empat bulan sepuluh hari. Alloh ta’ala berfirman:

Artinya:”Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. al-Baqoroh 234)

b) Nabi pernah melarang ziaroh kubur. Kemudian membolehkannya.

c) Kiblat sholat pada mulanya menghadap ke baitul maqdis. Kemudian di ubah menghadap ke arah ka’bah. (lihat: HR. Bukhori no:403 dan 4488)

IJTIHAD PADA MASA ROSULULLOH.

Fiqih pada masa ini adalah fiqih berdasarkan wahyu, artinya sumber penetapn syari’at adalah wahyu Alloh ta’ala, baik al-Qur’an maupun as-Sunnah. Pada masa ini Rosululloh sholallohu alaihi wassalam berijtihad dan beliau mengijinkan shohabat untuk berijtihad serta mengakui hasil ijtihad mereka jika di benarkan oleh syari’at.

Ijtihad Rosululloh sholallohu alaihi wassalam mengacu kepada wahyu dan tidak menjadi sumber yang terpisah untuk menetapkan syari’at. Sedangkan ijtihad shohabat mengacu kepada Rosululloh sholallohu alaihi wassalam. Apabila Rosululloh sholallohu alaihi wassalam mengakuinya maka ia menjadi penetapan syari’at bagi ummat. Namun, bila Rosululloh sholallohu alaihi wassalam tidak mengakuinya maka tidak menjadi penetapan syari’at.

Contoh ijtihad Rosululloh sholallohu alaihi wassalam:

a) Mengambil tebusan tawanan dari perang badar karena hukum tentang tawanan belum disyari’atkan pada masa itu.

b) Ijin Rosululloh sholallohu alaihi wassalam kepada mereka yang tidak ikut pada perang tabuk untuk tetap tinggal di madinah.

Contoh ijtihad shohabat pada zaman Rosululloh sholallohu alaihi wassalam:

Riwayat tentang dua shohabat yang bepergian. Ketika tiba waktu sholat. Keduanya tidak menemukan air. Lalu keduanya bertayamum dan sholat. Kemudian keduanya mendapatkan air sebelum berakhirnya waktu. Salah seorang diantara keduanya mengambil air wudhu dan mengulangi sholat. Sedangkan yang lain tidak mengulangi sholat. Ketika keduanya menghadap Rosululloh sholallohu alaihi wassalam dan mengabarkan apa yanag terjadi. Beliau membenarkan keduanya dan tidak mengingkari salah satunya. Beliau berkata kepada shohabat yang tidak mengulangi sholat, “Engkau telah bertindak sesuai dengan sunnah dan sholatmu telah cukup bagimu”. Kemudian Rosululloh sholallohu alaihi wassalam berkata kepada yang mengulangi sholat “Engkau mendapatkan pahala dua kali”.


KODIFIKASI DI MASA ROSULULLOH

Rosululloh sholallohu alaihi wassalam menunjuk beberapa shohabat untuk menuliskan Al-Qur’an yang diturunkan. Di antara meraka adalah Zaid bin tsabit. Mengenai As-Sunnah Rosululloh sholallohu alaihi wassalam tidak menunjuk langsung shohabat secara khusus untuk menuliskannya. Bahkan pada mulanya penulisan As-Sunnah dilarang karena dikhawatirkan tercampur dengan al-Qur’an (Lihat Shohih muslim jilid 18 hlm. 129). Kemudian Rosululloh sholallohu alaihi wassalam membolehkannya. Dan sebagian shohabat menulis as-Sunnah yang didengar dari Rosululloh sholallohu alaihi wassalam, diantaranya Abdulloh bin Amr bin Ash. (Lihat Musnad Imam Ahmad, jilid 10 hal. 12)

Di tulis: Abu mujahidah al-Ghifari

9.14.2010

Fikih praktis sholat iedain

Sholat 'Iedain adalah sholat 'Iedul Fitri (hari raya di awal bulan Syawal setelah menyelesaikan shoum Romadhon) dan 'Iedul Adha (hari raya di tanggal 10 Dzulhijjah setelah jama'ah haji melaksanakan wukuf di ‘Arofah). Hukum sholat 'Iedain adalah wajib 'ain menurut pendapat ulama yang paling terkuat. Bahkan wanita-wanita haid dan anak-anak kecil-pun diperintahkan untuk keluar menyaksikan sholat 'Iedain, walaupun mereka sendiri tidak melaksanakan sholat.
Alloh berfirman:
Artinya: “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berkorbanlah.” (Q.S. Al-Kaustar: 2)
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ : أَمَرَنَا - تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ. وَفِي لَفْظٍ: كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا حَتَّى نُخْرِجَ الْحُيَّضَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ وَيَدْعُوْنَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُوْنَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ.
Dari Ummu 'Athiyah mengatakan: Nabi memerintahkan kami untuk mengeluarkan wanita-wanita muda dan gadis-gadis pinggitan pada hari raya 'Iedul Fitri dan 'Iedul Adha. Beliau memerintahkan wanita-wanita yang sedang haidh agar menjauhi tempat sholat kaum muslimin.
Dalam lafadz yang lain dikatakan: Kami diperintahkan untuk keluar pada hari raya 'Ied. Sampai-sampai kami juga diperintahkan untuk mengeluarkan gadis dari tempat pinggitannya dan juga wanita-wanita yang haid. Mereka diletakkan di belakang jama'ah lelaki sehingga bisa bertakbir bersama kaum lelaki, juga berdo'a bersama mereka, mengharapkan berkah dan kesucian hari tersebut. (H.R. Bukhori no:980 dan Muslim no:890)


Sholat 'Iedain dilaksanakan di musholla (lapangan, alun-alun) setelah matahari naik sepenggalan setelah terbitnya tanggal 1 Syawal. Ketika hendak berangkat ke tempat sholat 'Iedain dianjurkan mandi (seperti mandi junub), lalu berpakaian yang paling terbaik yang dimilikinya dan memakai wewangian, lalu makan terlebih dahulu ketika hari raya 'Iedul Fitri dan berpuasa dulu saat 'Iedul Adha. Dari mulai keluar rumah hingga dilaksanakannya sholat 'Iedul Fitri, dianjurkan untuk tidak putus-putus bertakbir dengan ucapan “Allohu akbar 2x Laa illaha illallah wallahu akbar Allahu akbar walillahil hamd”. Sedangkan untuk 'Iedul Adha dianjurkan bertakbir dari mulai tanggal 10 Dzulhijjah hingga 3 hari tasyriq (11-13 Dzulhijjah) di setiap selesai sholat fardhu
خَرَجَ عَبْدُ اللهِ بْنُ بُسْرٍ صَاحِبُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ النَّاسِ فِيْ يَوْمِ عِيْدِ فِطْرِ أَوْ أَضْحَى فَأَنْكَرَ إِبْطَاءَ اْلإِمَامِ فَقَالَ إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ وَذَلِكَ حِيْنَ التَّسْبِيْحِ.
Abdullah bin Busrin salah seorang shohabat Rosululloh keluar bersama orang banyak pada hari raya 'Idul Fithri atau 'Idul Adha, lalu dia memprotes keterlambatan datangnya imam sholat seraya berkata: "Kita telah menyia-nyiakan waktu ini. Di zaman RosululLo h saat seperti ini kami telah selesai mengerjakan sholat 'ied, yaitu waktu dhuha. (H.R. Bukhori)
عَنْ عَلِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ اْلغُسْلِ فَقَالَ : يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ عَرَفَةَ وَيَوْمَ اْلفِطْرِ وَيَوْمَ اْلأَضْحَى.
Dari Ali bahwa ia pernah ditanya perihal mandi, maka dia menjawab: "Yaitu pada hari jum'at, hari 'Arafah, hari raya 'Idul Fitri, dan hari raya 'Idul Adha." (H.R. As-syafii no:114 dan Baihaqi no:3/278)
عَن ابْنِ عَبَاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ الله ِصَلَى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَمَ يَلْبَسُ يَوْمَ العِيْدِ بُرْدَةً حَمْرَاءَ.
Dari Ibnu Abbas , ia berkata: "Rosululloh menggunakan kain burdah merah pada hari raya.” (lihat: Ash-shohihah no: 1279 dan Al-Haitsami dalam Majma'uz Zawa-id II: 201)

عن أَنْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَمَ لاَ يَغْدُوْ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمْرَاتٍ.
Dari Annas , ia berkata: "Adalah Rosululloh tidak berangkat (ke tanah lapang) pada hari raya 'Idul Fitri sehingga makan beberapa butir kurma." (H.R. Bukhroi no:953, Tirmidzi no:543, Ibnu majah no:1754 dan Ahmad no:3/126)
عن أَبِي بُرَيْدَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَمَ كَانَ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَلاَ يَطْعَمُ يَوْمَ النَّحْرِ حَتَّى يَذْبَحَ.
Dari Abi Buraidah : "Bahwa Rosululloh tidak berangkat (ke tanah lapang) pada hari 'Idul FItri sebelum sarapan, dan tidak sarapan pada hari raya kurban hingga beliau menyembelih binatang kurbannya." (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)
Ibnu Mas'ud mengucapkan takbir dengan lafazh:
اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَ الله، وَللهُ ُأَكْبَرُ، اَللهُ ُأَكْبَرُ وَِللهِ الْحَمْدُ.
"Alloh Maha Besar Alloh Maha Besar, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh, dan Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar dan untuk Alloh lah segala pujian." (H.R. Ibnu Abi Syaibah no:2/168)
Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadz:
اللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَأَجَلٌ. الله ُأَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا.
"Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar, Alloh Maha Besar dan bagi Alloh lah segala pujian, Alloh Maha Besar dan Maha Mulia, Alloh Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita." (H.R. Baihaqi no:3/315)
Salman , ia berkata:
كبِّرُوا الله:اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ ُأَكْبَرُ كبَِيْرًا.
"Agungkanlah Alloh dengan mengucapkan: Allohu Akbar, Allohu Akbar, Allohu Akbar." (H.R. Baihaqi no:3/316)
كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرَ حَتَّى يَأْتِِيَ اْلمُصَلَّى وَحَتىَّ يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ َقَطَعَ التَكْبِيْرَ.
"Beliau keluar pada hari 'Idul Fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di musholla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya sholat. Apabila beliau telah menunaikan sholat, beliau menghentikan takbir." (H.R. Ibnu Abi Syaibah no:1/487 dan lihat As-shohihah no:170)
Ibnu Umar meriwayatkan dari bapaknya, dia berkata:
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَدَاةِ عَرَفَةَ فَمِنَّا الْمُكَبِّرُ وَمِنَّا الْمُهَلِّلُ فَأَمَّا نَحْنُ فَنُكَبِّرُ.
"Di suatu pagi pada hari 'Arofah kami bersama Rosululloh maka sebagian kami ada yang bertakbir dan sebagian yang lain bertahlil, dan saya adalah orang yang bertakbir." (H.R. Muslim dan Baihaqi)
عن أَبِي مَسْعُوْدٍ رَضِيَ الله ُعَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ أَيَّامَ التَّشْرِيْقِ الله ُأَكْبَرُ الله ُأَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَ الله ُوَالله ُأَكْبَرُ الله أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
Dari Ibnu Mas'ud bahwa ia bertakbir pada hari Tasyrik (dengan lafazh), "Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah, Allahu akbar, Allahu akbar wa lillahil hamd." (H.R. Ibnu Abi Syaibah)

Sholat 'Iedain tidak didahului oleh adzan atau iqomah serta tidak pula ada sholat qobliyyah dan ba'diyyah, bahkan tidak ada sholat apapun sebelumnya, karena dilaksanakan di lapangan. Sholat 'Iedain dilaksanakan dua roka'at seperti sholat sunnah lainnya. Bedanya adalah bahwa takbirnya ada beberapa tambahan, yaitu 7 kali takbir pada roka'at pertama dan 5 kali takbir pada roka'at kedua dengan mengangkat kedua tangan atau tidak di setiap kali takbir. Di sela-sela takbir-takbir itu kita dianjurkan untuk membaca “Subhanalloh, alhamdulillah la ilaha illallah Allahu akbar”. Dianjurkan pula untuk membaca surat Al-Qaaf atau Al-A'la pada raka'at pertama dan surat Al-Qamar atau Al-Ghasiyah pada raka'at kedua.
Dari Jabir bin samurah , ia berkata:
(صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَيْنِ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ ).
"Aku pernah sholat dua hari raya bersama Rosululloh bukan hanya sekali dan dua kali, tanpa dikumandangkan adzan dan tanpa iqomah." (H.R. Muslim no:887, Abu dawud no:1148 dan At-tirmidzi no:532)
Abu sa’ied al-khudriy berkata:
(( كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ))
"Rosululloh keluar menuju mushola (tanah lapang) pada hari Fitri dan Idul Adha, maka yang pertama kali beliau lakukan adalah sholat" (H.R. Bukhori no:956 dan Muslim 889)
Aisyah berkata:
(( أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي اْلأُوْلَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَتَيْ الرُّكُوْعِ ))
"Sesungguhnya Rosululloh bertakbir dalam sholat Idul Fitri dan Idul Adha, pada rokaat pertama sebanyak tujuh kali dan rokaat kedua lima kali, selain dua takbir ruku’." (H.R. Abu dawud no:1150, Ibnu majah no:1280 dan Ahmad no:6/70)
Ibnu Mas'ud berkata:
(بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيْرَتَيْنِ حَمْدُ ِللهِ عَزّ َوَجَلَ، وَثَنَاءَ عَلَى اللهِ )
"Di antara tiap dua takbir diucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah Azza wa Jalla."(H.R. Al-baihaqi no:3/291)

Setelah menyelesaikan sholat, imam berkhutbah kepada seluruh kaum muslimin dengan satu kali khutbah, bukan dua kali khutbah. Jadi, tidak ada duduk di antara dua khutbah. Lalu ketika pulang, dianjurkan bagi kaum muslimin untuk memilih jalan lain yang bukan jalan yang ditempuhnya saat berangkat ke tempat sholat yang pertama.
Dari Abi Said bin Khudri berkata:
( كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ اْلعِيْدِ وَاْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوْصِيْهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ )
"Rosululloh biasa keluar menuju musholla pada hari Idul Fitri dan Adha. Maka yang pertama kali beliau lakukan adalah sholat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia sedangkan mereka dalam keadaan duduk di shof-shof mereka. Beliau lalu memberi pelajaran, wasiat dan perintah." (H.R. Bukhori no:956)
Dari Jabir bin Abdillah ia berkata:
( كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيْدٍ خَالَفَ الطَّرِيْقَ )
"Nabi pada hari raya biasa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali dari musholla)." (H.R. Bukhori no:986)

Disusun oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc.
Bogor 14 September 2010 M

9.11.2010

Fikih praktis sholat-sholat sunnah

Oleh : Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc

1. Sholat sunnah rowatib.
Sholat sunnah adalah ibadah yang sangat agung, dapat menambal kekurangan dalam sholat fardu, mendapatkan kebaikan selama berada dalam sholatnya, dan meraih kecintaan dari Alloh .
Sholat sunnah yang dikerjakan sebelum dan sesudah sholat fardu disebut dengan sholat sunnah rowatib yaitu: dua atau empat rokaat sebelum dan sesudah sholat dzuhur, dua atau empat rokaat sebelum ashar, dua rokaat sesudah sholat magrib dan dibolehkan juga sholat sunnah sebelum sholat magrib, dua rokaat sesudah sholat isya dan dua rokaat sebelum sholat shubuh.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَليَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ اْلعَبْدُ اْلمُسْلِمُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الصَّلاَةُ الْمَكْتُوْبَةُ فَإِنْ أَتَمَّهَا وَإِلاَّ قِيْلَ أُنْظُرُوْا هَلْ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ أَكْمَلَتِ اْلفَرِيْضَةُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ يَفْعَلُ بِسَائِرِ الْأَعْمَالِ اْلمَفْرُوْضَةِ مِثْلُ ذَلِكَ ))
Dari Abu hurairoh berkata: Aku Mendengar Rosululloh bersabda:” Sesungguhnya amalan hamba muslim yang pertama kali dihitung pada hari kiamat adalah sholat wajib, jika ia menyempurnakan-nya (maka ia telah beruntung), jika tidak maka dikatakan kepada (para malaikat) : perhatikanlah..! adakah ia memiliki amalan sholat sunnah? Jika ia memilikinya maka lengkapilah (kekurangan) amalan sholat fardunya dengan amalan sholat sunnahnya, kemudian seluruh amalan sholat wajib diperlukan seperti itu.” (Shohih: shohih ibnu huzaimah, ibnu majah, At-tirmidzi dan An-nasai’)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَاقَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَليَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ الظُّهْرِ سَجْدَتَيْنِ وَبَعْدَهَا سَجْدَتَيْنِ وَبَعْدَ اْلمَغْرِبِ سَجْدَتَيْنِ وَبَعْدَ اْلعِشَاءِ سَجْدَتَيْنِ وَبَعْدَ الْجُمُعَةِ سَجْدَتَيْنِ فَأَمَّا اْلمَغْرِبُ وَاْلعِشَاءُ وَاْلجُمُعَةُ فَصَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَليَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهِ.
Dari Ibnu umar berkata: “ Saya telah melakukan sholat bersama Rosululloh Sebelum dzuhur sebanyak dua rokaat dan setelahnya dua rokaat dan setelah magrib dua rokaat dan setelah isya dua rokaat dan setelah jum’at dua rokaat, adapun sholat magrib, isya dan jum’at saya melaksanakannya bersama nabi di rumahnya.” (H.R. Muslim no:729)
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ مُغَفَّلٍ اْلمُزَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ )) قَالَهَا ثَلاَثاً. قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: (( لِمَنْ شَاءَ ))
Dari Abdulloh bin mughofal almuzani berkata: Rosululloh telah bersabda: “Antara dua adzan (adzan dan iqomah) terdapat shalat (sunnah) .” Beliau mengatakannya tiga kali kemudian mengatakan pada ketiga kalinya .”Bagi yang mau.” (H.R. Muslim no:838) 

2. Sholat malam.
Mengerjakan sholat sunnah pada malam hari adalah bukti kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Robb-Nya, ciri-ciri orang yang bertaqwa, Nabi selalu mengerjakannya dan menggantinya pada siang hari disaat ia tidak bisa melakukannya pada malam hari, jumlah rokaatnya minimal satu rokaat dan maksimalnya sebelas rokaat, jika pada bulan romadhon di anjurkan untuk dikerjakan secara berjama’ah di mesjid, disebut juga sholat tarawih, adapaun selain bulan romadhon di anjurkan mengerjakannya bersama keluarga dan dibolehkan sendirian. Waktu yang paling utama untuk di kerjakannya ialah pada sepertiga malam.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَليِّ مِنَ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشَرَةَ رَكْعَةٍ يُوْتِرُ مِنْ ذَلِكَ بِخَمْسٍ لاَ يَجْلِسُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ فِي آخِرِهَا.
Dari Aisyah berkata: Rosululloh melakukan sholat malam sebanyak tiga belas rokaat dan melakukan sholat witir (ganjil) pada yang kelima, beliau tidak duduk kecuali pada yang terakhir.” (H.R.Muslim no:737)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلىَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً.
Dari Aisyah berkata: Tidaklah Rosululloh menambah (sholat) pada bulan romadhon dan selainya di atas sebelas rokaat.” (H.R. Al-bukhori no:1147)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَاقَالَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَليَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنىَ فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلىَّ رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلىَّ.
Dari Ibnu ummar berkata: bahwa Rosululloh bersabda: “ Sholat malam itu dua rokaat- dua rokaat dan jika kalian takut masuk waktu shubuh maka sholatlah satu rakaat sebagai pengganjil sholat yang telah di lakukannya.” (H.R. Muslim no:749)

3. Sholat witir.
Sholat witir termasuk sholat sunnah yang dianjurkan sekali, dikerjakan mulai setelah sholat isya hingga sebelum fajar terbit, jika belum sempat sholat witir karena tertidur pulas hendaklah ia menggantinya sebelum sholat shubuh dan bagi orang yang khawatir tidak bangun disepertiga malam akhir dianjurkan mengarjakan sholat witir di penghujung malam, serta dianjurkan membaca do’a qunut pada sholat witir di rokaat akhir sebelmu ruku’.
(( مَنْ ظَنَّ مِنْكُمْ أَنْ لاَ يَسْتَيْقِظَ آخِرَاللَّيْلِ فَلْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ ظَنَّ أَنَّهُ يَسْتَيْقِظُ آخِرَهُ فَلْيُوْتِرْ آخِرَهُ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرَاللَّيْلِ مَحْضُوْرَةٌ وَهِيَ أَفْضَلُ ))
Barangsiapa di antara kamu menduga tidak dapat bangun di penghujung malam, hendaklah ia sholat witir di permulaannya, dan barangsiapa di antara kamu yang menduga akan dapat bangun di penghujung malam, hendaklah ia sholat witir dipenghujung malam, karena sholat (sunnah) di penghujung malam itu di hadiri (para malaikat) serta lebih utama.” (H.R. Ahmad)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: مِنْ كُلِّ الَّليْلِ قَدْ أَوْتَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَليَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْتَهَى وِتْرَهُ إِلىَ السَّحَرِ.
Dari Aisyah berkata: “ Setiap malam Rosululloh melakukan sholat witir dan menyelesaikan sholat witirnya hingga waktu shubuh (tiba).” (H.R. Al-Bukhori dan Muslim)
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَليَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (( اِجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا ))
Dari Ibnu umar bahwa Nabi bersabda: “ Jadikanlah akhir sholatmu di malam hari dengan shalat witir.” (H.R muslim no:751)

4. Sholat dhuha.
Nabi hampir tidak pernah meninggalkan sholat sunnah dhuha, yaitu sholat sunnah yang boleh dikerjakan mulai terbitnya sinar matahari naik setinggi tombak sampai tergelincirnya matahari, jumlah rokaatnya minimal dua rokaat dan maksimalnya delapan rokaat, boleh di kerjakan di rumah ataupun di mesjid.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ:كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَليِّ الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيْدُ مَاشَاءَ اللهُ.
Dari Aisyah berkata:”Rosululloh melakukan sholat dhuha empat rokaat dan belaiu menambahkan seperti yang dikhendaki Alloh .” (H.R.muslim no:719)
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَليِّ سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ وَإِنِّي لَأُسَبِّحُهَا وَإِنْ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَدَعُ اْلعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ.
Dari Aisyah berkata:”Aku tidak melihat Rosululloh selalu mengerjakan sholat dhuha tapi aku tetap malaksanakannya, dia meninggalkan amal ini karena takut di ikuti banyak orang sehingga seperti sholat fardu bagi meraka padahal Rosululloh sangat mencintai untuk melaksanakan sholat dhuha ini.” (H.R.Muslim no:718)

5. Sholat sunnah sesudah berwudhu.
Berwudhu dengan baik dan benar dapat menghapus dosa-dosa, menjadi pelita di hari kiamat nanti, dan akan menjadi ciri ummat Rosululloh , berwudhu juga tidak mesti di lakukan ketika hendak melaksanakan sholat wajib saja akan tetapi selalu dalam keadaan suci merupakan ibadah apalagi melakukan sholat sunnah setiap kali selesai berwudhu, ini juga dapat mengahapus dosa-dosa seorang hamba yang telah lampau.
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (( لاَ يَتَوَضَأُ رَجُلٌ مُسْلِمٌ فَيُحْسِنُ اْلوُضُوْءَ فَيُصَلِّي صَلَاةً إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّلاَةِ الَّتِي تَلِيْهَا )).
Dari Utsman bin affan berkata:” Sesungguhnya saya telah mendengar Rosululloh bersabda :”Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu ia menyempurnakan wudhunya kecuali Alloh mengampuni dosanya diantara wudhunya saat itu hingga (wudhu) sholat berikutnya.” (H.R.muslim no:227)
(( مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيْهِمَا نَفْسَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ))
Barangsiapa yang berwudhu seperti caraku berwudhu kemudian berdiri sholat dua rokaat seraya tidak ada was-was dalam dirinya diantara wudhu dan sholatnya niscaya dosanya yang telah lalu diampuni.” (H.R. Al-bukhori no:159 dan Muslim no:226)

6. Sholat istikhoroh.
Rasa ragu dalam memutuskan perkara sering di rasakan oleh setiap manusia, namun jika memohon kepada Alloh untuk memberi petunjuk jalan yang terbaik merupakan tindakan yang sangat tepat karena Alloh sangat mengetahui perkara yang baik dan yang buruk. Dan hendaknya ia mengerjakan dua rokaat sholat sunnah istikhoroh yaitu: sholat sunnah meminta petunjuk agar di pilihkan yang terbaik baginya dalam suatu urusan lalu ia berdo’a, sholat sunnah ini hanya di lakukan pada hal-hal yang dibolehkan dalam islam dan bukan pada hal-hal yang harom ataupun yang wajib karena hal itu sudah jelas larangan dan perintahnya.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا اْلاِسْتِخَارَةَ فيِ اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّوْرَةَ مِنَ اْلقُرْآنِ يَقُوْلُ: إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِاْلأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ اْلفَرِيْضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَمُ اْلغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِيْنيِ وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيْهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِيْنيِ وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْقَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ. قَالَ:" وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ "
Dari Jabir bin abdulloh berkata: Rosululloh mengajarkan kepada kami sholat istikhoroh dalam berbagai permasalahan sebagaimana beliau mengajarkan kami satu surat dalam alqur’an seraya bersabda:” Jika salah seorang di antara kamu merasa bingung dalam menghadapi satu urusan hendaklah ia sholat dua rokaat di luar sholat wajib lalu ia berdo’a:
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَمُ اْلغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِيْنيِ وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيْهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِيْنيِ وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْقَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي بِهِ
(Ya Alloh, aku meminta pilihan padaMu dengan ilmu-Mu, aku meminta keputusan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu dan aku meminta karunia-Mu yang agung karena engkau maha kuasa sedang aku tidak berkauasa dan engkau maha menghetahui sedang aku tidak menghetahui, sesungguhnya engkau menghetahui segala sesuatu yang ghaib, Ya Alloh jika engkau menghetahui bahwa urusan ini baik bagiku, bagi agamaku, kehidupanku dan akibat akhir urusan ini maka tetapkanlah untukku dan mudahkanlah bagiku, lalu berkahilah aku di dalamnya, begitu juga jika engkau menghetahui bahwa urusan ini buruk bagiku, bagi agamaku, kehidupanku dan akibat akhir urusanku ini maka palingkanlah ia dariku dan palingkanlah aku pula darinya, dan tetapkanlah untukku kebaikan apapun bentuknya dan ridhoilah aku didalamnya) Kemudian ia menyebutkan hajatnya.” (H.R.Albukhori no:1162)

7. Sholat tahiyatul mesjid.
Mesjid adalah rumah Alloh yang suci, mengagungkan syi’ar-syi’arnya merupakan ketaqwaan kepada Alloh, islam di bangun dari generasi yang dibesarkan di mesjid, karenanya menghormati mesjid adalah suatu kewajiban, dan di antara ibadah sunnah dalam menghormati mesjid adalah melakukan sholat dua rokaat ketika memasuki mesjid sebelum duduk.
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ بْنَ رِبْعِيٍّ اْلأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ اْلمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ)).
Dari Abu qotadah bin rib’iyin al-anshory berkata: Nabi telah bersabda: “jika salah seorang diantara kalian memasuki mesjid maka janganlah duduk hingga sholat dua.” (H.R. Al-bukhori no:1163)

8. Sholat hajat.
Setiap orang pasti memiliki hajat, manusia hanya bisa berusaha dan Alloh-lah yang menentukan, Alloh akan mengabulkan keinginan seorang hamba cepat ataupun lambat, jika seorang muslim ingin memenuhi hajatnya hendaklah ia berwudhu serta melaksanakan sholat sunnah dua rokaat lalu memohon kepada Alloh agar memenuhi hajatnya.
(( مَنْ تَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ اْلوُضُوْءَ ثُمَّ صَلَّي رَكْعَتَيْنِ يُتِمُّهُمَا أَعْطَاهُ اللهُ مَا سَأَلَ مُعَجَّلاً أَوْ مُؤَخَّرًا ))
Barangsiapa yang berwudhu kemudian ia menyempurnakan wudhunya lalu sholat dua rokaat dengan menyempurnakan keduanya, niscaya Alloh akan memberinya apa yang dimohonkannya baik dalam waktu yang cepat atau dalam waktu yang dilambankan.” (H.R. Ahmad no:26951 dengan sanad yang shohih)
Bogor 12-September-2010 M