7.02.2017

Fikih Puasa Syawal

Puasa sunnah Syawal adalah puasa yang disunnahkan untuk dilakukan di bulan Syawal setelah mengerjakan puasa Ramadhan selama enam hari.
رَوَى مُسْلِمٌ عَنْ أَبِى أَيُّوبَ الأَنْصَارِىِّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ « مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ »
Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa selama setahun penuh.” (HR. Muslim No.2758, Abu Daud No.2433, Tirmidzi No.759, dan Ibnu Majah No.1716)
Para ahli fiqih madzhab Hambali dan asy-Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh. Karena penggandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnah.

6.22.2017

Kado Perpisahan Terbaik Dari Bulan Ramadhan

Kita dibina menjadi hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bertakwa selama bulan Ramadhan. Dejarat ketakwaan merupakan tujuan disyariatkannya ibadah puasa. Dengan ketakwaan, maka seorang hamba akan meraih kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dimudahkan segala urusannya, dilapangkan rezekinya, diberi hidayah dan bimbingan dalam mengarungi bahtera kehidupan, dihapuskan kesalahannya, diberi petunjuk mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, dan meraih kemenangan dengan dimasukannya ke dalam Surga serta meraih berbagai kenikmatan hidup di akhirat.
Keindahan dan keistimewaan bulan Ramadhan tidak mungkin bisa digambarkan dengan uraian kata-kata indah. Tapi, jiwa-jiwa orang yang beriman pasti merasakan betapa indah dan istimewanya bulan Ramadhan. Khususnya meraka yang menyambut bulan Ramadhan penuh dengan keimanan dan pengharapan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dari sekian banyaknya keindahan bulan Ramadhan, ada beberapa yang bisa kita ambil pelajarannya selama kita hidup di Bulan Ramadhan. Pelajaran ini merupakan kado terbaik yang diberikan bulan Ramadhan kepada kita yang menjalankan beragam ketaatan di bulan Ramadhan.
Pertama: al-Qur’an
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selama bulan Ramadhan banyak membaca al-Qur’an. Beliau senantiasa bertadarus al-Qur’an dengan malaikat Jibril alaihisalam setiap malam di bulan Ramadhan sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pula yang dilakukan oleh salafsusholeh yang lebih fokus berinteraksi dengan al-Qur’an selama bulan Ramadhan.

6.19.2017

Zakat Fitrah

Zakat fitrah itu wajib ditunaikan oleh setiap muslim. Baik laki-laki maupun perempuan. Baik anak-anak maupun dewasa. Baik kaya maupun miskin selama ia mempunyai makanan pokok lebih dari sehari. Kewajiban ini ditunaikan menjelang Sholat Idul Fitri atau tenggelamnya matahari di akhir bulan Ramadhan.
رَوَى اْلبُخَارِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ.
Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits bahwa Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fitrah satu sha’ dari kurma atau gandum atas budak, orang merdeka, laki-laki, dan perempuan, anak kecil dan orang tua dari seluruh kaum muslimin. Beliau shallallahu alaihi wasallam memeerintahkan supaya zakat fitrah dikeluarkan sebelum orang-orang keluar untuk shalat ‘Ied.” (HR. Al-Bukhori)

6.15.2017

Menggapai Kemuliaan Lailatul Qadar

Di antara sebab kemuliaan bulan Ramadhan adalah karena di bulan Ramadhan ini terdapat Lailatul Qadar. Lailatul Qadar adalah malam yang diberkahi di antara malam-malam Ramadhan. Disebut seperti itu karena kemuliaannya. Sebagian mangatakan karena ketaatan-ketaatan yang dilakukan pada malam itu memiliki kemuliaan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ. سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ.
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an pada Lailatul Qadar (malam kemuliaan). Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadar [97]: 1-5)
Dalam kitab Tarsir al-Qurthubi dijelaskan bahwa Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata, “al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, pada lailatul qadar, pada malam yang penuh keberkahan, dari sisi Allah sekaligus yang dibawa dari Lauhul Mahfuzh kepada para malaikat penulis di langit dunia, lalu malaikat penulis itu menyerahkan kepada malaikat Jibril secara berangsur-angsur selama dua puluh tahun, dan malaikat Jibril menyerahkan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam juga secara berangsur-angsur selama dua puluh tahun.”

6.04.2017

Wanita Lebih Baik Shalat Di Rumah

Shalat terbaik dan lebih utama bagi seorang wanita adalah dikerjakan di rumahnya. Jika ingin melaksanakan shalat berjamaah di masjid maka tidak mengapa. Seorang suami tidak diperkenankan melarang isteri-isterinya yang ijin melaksanakan shalat di masjid. Yang perlu diperhatikan adalah rambu-rambu bagi seorang wanita yang keluar rumah menuju masjid. Seperti menutup aurat, tidak bersolek, tidak mengenakan farfum, tidak cambur baur dengan laki-laki, dan adab-adab keluar rumah lainnya.
Imam Abu Dawud meriwayat hadits dalam kitab Sunannya dan dishahihkan oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ »
Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian melarang isteri-isteri kalian yang hendak shalat di masjid dan rumah-rumah meraka lebih baik bagi meraka.”
Dalam redaksi lain, Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits dan dishahihkan oleh Syekh al-AlBani:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ « صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا »
Abdullah ibn Mas’ud radhiallahu anhu meriwayatkan hadits bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya.”

Ramadhan Adalah Bulan Al-Qur’an

Bulan Ramadhan erat hubungannya dengan al-Qur’an. al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. RasulUllah S.A.W. senantiasa mudarasah al-Qur’an dengan malaikat Jibril setiap malam di bulan Ramadhan. Allah S.W.T. berfirman dalam al-Qur’an surat al-Baqarah 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil.”
رَوَى اْلبُخَارِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits bahwa dari Ibnu Abbas r.a. berkata, “Rasulullah S.A.W. adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau ditemui oleh Jibril setiap malam di bulan Ramadhan untuk tadarus al-Qur’an dengan beliau, dan kedermawanan Rasulullah S.A.W. melebihi kemurahan angin yang berhembus untuk menurunkan hujan.” (HR. al-Bukhari)

6.02.2017

Agar Amal Ibadah Diterima Di Sisi Allah

Manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk beribadah kepada-Nya. Ketaatan dalam menjalankan peribadatan akan diberi balasan yang terbaik dan pembangkangan dari perintah beribadah akan diberi hukuman yang sangat dahsyat. Ini merupakan ketetapan Rabbul Alamin atas makhluk-makhluk-Nya. Allah S.W.T. berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah.” (QS. ad-Dzariyat: 56)
Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab al-Ubudiyah mendefinisikan makna Ibadah dengan penjelasan yang sangat bagus dan komprehensif. Beliau berkata:
الْعِبَادَةُ هِيَ اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ الْبَاطِنَةِ وَالظَّاهِرَةِ
“Ibadah adalah satu nama yang mencakup seluruh apa-apa yang dicintai dan diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala deri perkataan dan perbuatan. Baik batin maupun lahir.”
Defisini ibadah yang ungkapkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah ini menunjukan betapa luasnya cakupan ibadah. Ibadah bukan hanya terbatas pada ibadah-ibadah seperti shalat, puasa, haji, sedekah, jihad, memberi makan, berbakti kepada orang tua, berdo’a, dizkir, membaca al-Qur’an dan ibadah-ibadah mahdhoh lainnya. Bahkan seluruh perbuatan dan perkataan yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala termasuk kategori ibadah. Termasuk kategori ibadah adalah pengikutan secara totalitas kepada sunnah Rasulullah, penerapan hukum-hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala, cinta, benci, takut, tawakal, syukur, ridho, isti’anah, isti’adzah, istighasah, qurban, dan lain-lain.

6.01.2017

Hukum Shalat Tarawih Sendirian dan Berjamaah

Para ulama telah sepakat bahwa shalat tarawih hukumnya sunnah. Shalat tarawih adalah shalat malam yang dikerjakan pada malam bulan Ramadhan. Boleh dikerjakan sendirian di rumah. Boleh juga dikerjakan secara berjamaah di masjid. Keduanya sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam karena beliau pernah melakukannya.
رَوَى اْلبُخَارِيُّ وَ مُسْلِمٌ عَنْ عَائِشَةَ، أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ، أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: « قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ ». وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ.
Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Aisyah Ummul Mu’minien radhiallahu anha bahwa pada suatu malam Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melaksanakan shalat di masjid. Orang-orang pun melaksanakan shalat mengikuti beliau. Kemudian pada malam berikutnya beliau melaksanakan shalat lagi dan orang-orang pun semakin banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat. Namun, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak keluar menemui mereka. Keesokan harinya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku melihat apa yang kalian lakukan dan tidak ada yang menghalangiku keluar kepada kalian selain aku takut jika ini diwajibkan atas kalian." Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan. (HR. Al-Bukhari No.1129 dan Muslim No.1783)

5.29.2017

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tarawih

Tata cara pelaksanaan shalat malam atau shalat tarawih adalah dua rakaat-dua rakaat yang berarti setiap kali dua rakaat melakukan salam. Kemudian diakhiri dengan melaksanakan shalat witir. Tata cara pelaksanaan tersebut berdasarkan hadits-hadits dalam kitab Shahihain:
رَوَى اْلبُخَارِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits dari jalur Ibnu Umar radhiallahu anhuma bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Shalat malam dikerjakan dua rakat-dua rakaat. Jika engkau khawatir masuk waktu Shubuh maka lakukan shalat satu rakaat sebagai penutup (witir) atas shalat yang sudah kamu lakukan.”
Dalam riwayat lain dari jalur Aisyah disebutkan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam shalat empat rakaat:

5.28.2017

Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Imam Ibnu Rusyd menjelaskan dalam kitab Bidayatul Mujtahid adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama berkaitan dengan jumlah rakaat shalat tarawih. Yaitu menurut Imam Malik dalam salah satu versi pendapatnya, Imam Abu Hanifah, Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan Dawud, yaitu duapuluh rakaat selain witir. Menurut versi lain dari pendapat Imam Malik seperti dikutip oleh Ibnu al-Qosim, sebaiknya dilakukan sebanyak tigapuluh enam rakaat di tambah tiga rakaat witir.
Kemudian, beliau mengatakan bahwa perbedaan pendapat tersebut karena adanya dalil naql yang berbeda tentang hal ini. Menurut Imam Malik yang mengutip dari Yazid bin Rauman, Pada Zaman Khalifah Umar bin al-Khattab, orang-orang sama melakukan shalat tarawih sebanyak dua puluh tiga rakaat. Tetapi Ibnu Abu Syaibah mengutip pendapat dari Dawud bin Qais, ia berkata, “Di Zaman Umar bin Abdul Aziz dan Abban bin Utsman, aku mendapati orang-orang di Madinah melakukan shalat tarawih sebanyak tigapuluh enam rakaat dan tiga rakaat witir.”
Seorang ulama mazhab Hanafi, Imam as-Sarkhasi dalam kitab al-Mabsuth menjelaskan bahwa sesungguhnya shalat malam dalam mazhab kami  adalah dua puluh rakaat selain witir.
Seorang ulama mazhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni mengatakan bahwa pendapat yang dipilih menurut Imam Abu Abdullah Ahmad rahimahullah dalam shalat malam adalah dua puluh rakaat. Pendapat juga dipilih oleh Ats-Tsauri, Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i. Sedangkan Imam Malik mengatakan: Tiga puluh enam rakaat.
Seorang ulama mazhab asy-Syafii, Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu menjelaskan bahwa shalat Taraweh adalah sunnah menurut ijma para ulama. Dalam mazhab kami shalat Taraweh adalah dua puluh rakaat dengan sepuluh kali salam dan dibolehkan pelaksanaannya sendiri atau berjama’ah.
Oleh karena itu, masalah berapa jumlah rakaat dalam pelaksanaan shalat tarawih ini merupakan masalah khilafiyah yang setiap muslim hendaknya mengacu pada dalil yang dianggap terkuat serta menghormati orang lain yang berbeda pendapat dengannya. Tidak menjadikan hal ini sebagai sebab perpecahan ummat dan sebab-sebab permusuhan.